PONDOK PESANTREN

Pesantren dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia telah berhasil membuktikan diri sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang berhasil. Sangat banyak tokoh, pahlawan dan ulama di berbagai level sosial yang lahir dari rahim pesantren, disamping lebih banyak lagi warga masyarakat yang telah dicerahkan lewat lembaga pendidikan tertua di Indonesi ini. Dalam masyarakatnya, mereka memiliki peran yang sangat signifikan untuk membentengi akidah masyarakat sekaligus memajukan kehidupan beragamanya menjadi lebih baik. Berangkat dari fakta historis seperti itu, Yayasan Nurul Ulum Kabupaten Blitar meyakini bahwa memadukan pendidikan ala pesantren dan pendidikan formal akan menjadi faktor utama keberhasilan sebuah lembaga pendidikan. Maka, sejak awal yayasan menerapkan sistem tinggal di pondok pesantren (boarding school system) bagi semua lembaga pendidikan yang dibawahinya. Dengan sistem ini banyak nilai lebih yang bisa diperoleh, diantaranya:

  1. Sistem boarding school memberikan peluang lebih kepada lembaga untuk melakukan rekayasa lingkungan belajar sehingga lebih kondusif bagi tercapainya tujuan pendidikan. Rekayasa lingkungan ini juga penting bagi pelaksanaan program pengembangan bahasa asing, sehingga pondok selain menjadi tempat belajar juga sekaligus sebagai area untuk mempraktekkan bahasa asing yang dipelajari.

  2. Pondok pesantren adalah proteksi yang efektif bagi masuknya perilaku dan budaya destruktif yang berpotensi merusak generasi muda, seperti miras, narkoba, pergaulan bebas dan pornografi dsb. Dalam pesantren perilaku siswa dan interaksinya dengan dunia luar dipantau 24 jam.

  3. Pesantren adalah tempat yang kondusif untuk berlatih mempraktekkan nilai-nilai moral (akhlak) dan berbagai amaliyyah ibadah, serta menumbuh kembangkan karakter-karakter positif. Hasil yang diharapkan adalah para siswa memiliki kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ) yang baik, di samping juga memiliki kecerdasan intelktual yang memadai. Di Pondok Pesantren Nurul Ulum Kabupaten Blitar seluruh siswa MTs Ma’arif NU 2 Sutojayan dilatih untuk mengamalkan 9 ubudiyyah santri, yaitu: sholat jamaah, shalat rawatib, shalat witir, shalat dhuha, shalat tahajjud, puasa Senin dan Kamis, dawamul wudhu’ (menjaga kesucian dari hadas kecil), membaca al-Qur’an dan istighatsah.

  4. Sistem pesantren memberikan keleluasaan bagi lembaga untuk memberikan porsi pembelajaran dan pendidikan kepada siswa lebih banyak dari pada jika mereka tinggal di rumah, khususnya terkait materi-materi keagamaan. Bentuknya di MTs Maarif NU 2 Sutojayan adalah penambahan pembelajaran diniyyah dan program pengembangan Bahasa Arab, di luar pembelajaran formal yang mengacu pada kurikulum pendidikan nasional.

 

Sebagai gambaran, berikut jadwal kegiatan harian yang dilakukan oleh para santri adalah sebagai berikut: